reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

I Think That’s Not The Case Anymore May 14, 2013

Filed under: opinion — diodinta @ 6:17 pm

Bekerja di Jakarta tentu lah bukan sesuatu yang mudah,  jika dibandingkan dengan di daerah lain. Bukan karena pekerjaannya, tapi sesuatu yang lebih besar dari pekerjaan itu sendiri; kehidupan. Pertama kali datang ke jakarta sebagai seseorang pencari kerja, aku sempat merasa takjub dengan kehidupan jakarta. Semua orang berjalan dengan cepat. Semua orang berusaha dengan keras. Sebagai anak muda yang penuh energy, tentu hal ini membuat mataku berbinar-binar.

Tapi kehidupan bukan cuman itu saja kan.

Perjalanan di jakarta adalah hal yang dibenci semua orang. termasuk aku, orang yang menganggap banyak hal biasa saja. aku benci jalanan jakarta. Macet, berisik, dan bau. Apa ada hal yang lebih parah dari ini ? Tapi ketika pikiranku sedang waras dan berenergi positif, aku melihat sekelilingku. and, hey, it’s not just me. Melihat sopir metromini yang sembarangan, kenek yang nyebelin dan gag tau diri, penumpang lain yang kelihatan jauh lebih lelah, bahkan pengamen yang suaranya bagus sampai pengamen yang suaranya bikin aku komen dalam hati ‘ini orang gag punya cita-cita banget. bahkan menyanyi, yang menjadi kegiatan dia mencari uang, dan menyambung hidup, tidak dilakukannya dengan sepenuh hati’

Dan ini menjadi semakin menarik perhatian aku. Ketika pertama kali aku melihat orang mengemis atau mengamen (well, mungkin ini kejadian belasan tahun yang lalu) aku berpikir ‘ Pasti hidupnya sangat sulit, sampai dia meletakkan harga dirinya begitu rupa dan melakukan hal yang dilakukannya sekarang’

I mean, bahkan ketika keluarga ku sedang berada dalam kehidupan sangat sulit, tidak terlintas sekalipun dalam benak kami untuk meminta-minta. bahkan harga diri kami tidak setinggi itu. you know what i mean? Aku berpikir,  Betapa sulitnya hidup mereka, sehingga harus meminta-minta. Dan ketika melihat mereka, aku ikut merasakan betapa sakit hati ketika harus meminta-minta ke orang lain seperti itu. Bagaimana jika seseorang yang mereka lewati adalah seseorang yang mereka kenal.

Nah, I Think That’s Not The Case Anymore.

Sepertinya sekang ini orang-orang mulai mengubah pola hidup, atau bahkan pola pikir mereka. Sebenarnya aku bukan orang yang tepat mengatakan hal ini, karena aku sendiri pun belum pasti menjalani hidup ku dengan benar. Tapi aku pikir orang-orang mulai kehilangan harga diri mereka sebagai manusia (sekali lagi, siapa lah aku, mengomentari cara hidup orang lain). but I cant help but feel angry.  Ketika aku melihat seorang ibu, menggendong anaknya yang masih batita. lusuh dan tidak terawat, meminta-minta. Hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah ‘Keterlaluan’.

Satu hal yang aku paling pegang teguh saat ini adalah, jangan melibatkan makhluk hidup lain dalam hidup kamu jika kamu tidak sanggup emosionally/financially. Sebagai contoh, jangan memilihara binatang kalau kamu gag sempet bersihin kandangnya, gag sempet mandiin badannya, gag sempet kasih makan, gag sempet ngajak main. Jangan pernah mengambil apa yang tidak sanggup kamu tanggung.  Bukan bermaksud menyamakan bayi dengan hewan peliharaan, itu cuman contoh kecilnya; hewan peliharaan. Darah daging tanggung jawabnya jauh lebih besar, Bukankah begitu ?

Jadi ketika aku melihat ibu itu, aku tidak mengerti bagaimana cara orang-orang ini berpikir. Apakah Sex sesuatu yang tidak dapat mereka hindari ?  Apakah ketika akan melakukannya tidak pernah terpikirkan sedetikpun bahwa ada tanggung jawab di dalam nya jika mereka tidak berhati-hati ? atau setidaknya, tidak bisa kah meluangkan sedikit waktu untuk mencari kondom dan memasangnya ? Karena aku belum pernah melakukannya, aku tidak bisa menjudge. Pasti sangat menyenangkan sampai banyak orang khilaf karenanya.

But that’s not the point.

Aku bahkan sebenarnya tidak boleh menghakimi bahwa anak tersebut harusnya tidak seharusnya ada. (bahkan ketika aku menuliskan ini aku menyadari betapa keterlaluannya aku). Tapi tidak seharusnya menggunakan anaknya untuk hal seperti itu. Aku tidak bilang bahwa meminta-minta adalah hal yang najis untuk dilakukan. Aku bahkan tidak tau apakah anak tersebut anaknya beneran atau bukan. See ? Betapa pola pikir orang-orang untuk bertahan hidup sekarang ini mulai berubah.

Seperti yang aku bilang tadi. Bahwa pemikiran bahwa hidup mereka sangat sulit pasti bukan satu-satunya alasan mereka tidak berusaha (nah lagi-lagi aku menjudge. Kali ini aku menjudge bahwa mereka tidak berusaha). Mungkin kata ‘menyerah’ lebih tepat (apakah kali ini aku juga menjudge, dengan menyebut mereka menyerah?).

 

 

 

 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s