reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

Cerita Awan June 21, 2013

Filed under: cerpen — diodinta @ 1:09 am
Tags:

Awan hanya melihat sekilas sebelum akhirnya menyadari bahwa yang dilihatnya tadi adalah seorang wanita. Sekarang lebih dari tengah malam dan ini adalah hal terakhir yang ada dalam pikirannya ketika harus meronda mengelilingi perumahan mewah yang dijaganya . Seorang Wanita seorang diri, duduk di bangku taman, tengah malam. Berharap tidak ada yang tidak beres.

Awan tidak bisa mengalihkan pandangannya ketika dia mendekatkan motornya. Siapa tau sepersekian detik ia mengalihkan pandangan, wanita itu menghilang. Itu pasti akan menjadi pengalaman horor pertama yang dia alami seumur hidupnya.

Bulu kuduknya merinding.

Butuh waktu lama bagi nya untuk mengenali wanita ini. Padahal biasanya wanita ini terlihat sangat anggun dan ramah. Dia ingat betul ketika hari pertama dia bekerja, wanita ini dengan ramahnya menawari mereka snack yang baru saja di buatnya. Dengan wajah penasaran yang menggemaskan bertanya apakah makanan buatannya enak. Kemudian mengkhawatirkan apakah suaminya akan menyukai snack buatan nya itu. Untuk ukuran seseorang yang telah menikah, wanita ini tampak sangat lugu.

Tapi sekarang dia tampak berantakan

Jangan bayangkan berantakan ala gembel jakarta. Wajahnya tampak sedikit bengkak dan dia berani bertaruh bahwa itu karena dia habis menangis. Lihatlah wanita ini, begitu cantik dan anggun. Rambutnya tetap rapi, walau beberapa diantara nya mencuat kearah yang tidak seharusnya. Pakaiannya tetap anggun walaupun banyak noda.. Apakah itu noda darah ?

Apa ada perampokan ? Walau Awan yakin bukan hal itu karena perumahan ini sudah dimonitor dengan yang terbaik.

Kenapa dia berada disini jam segini ? Masalah rumah tangga ? Awan menelan ludah. Bagaimana jika masalah rumah tangga. Hal-hal canggung begini bukan keahliannya.  Dalam sepersekian detik perjalanannya mendekati wanita ini, begitu banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.

“nyonya..” Awan mulai memanggil ketika dia memarkir motornya.

Tidak ada jawaban. Wanita ini tetap diam memandang kosong ke arah depannya.

Awan semakin mendekat dan menyadari bahwa tubuh wanita ini bergetar. “Nyonya..” Awan mengeraskan suaranya. dan kemudian menyadari bahwa noda darah lah yang ada di bajunya. dan bukan hanya di bajunya, tapi juga di lengannya, pergelangan tangannya…

Awan menekan tombol emergency yang menggantung di ikat pinggangnya. Ini kejadian besar pertama yang terjadi semasa dia bertugas sebagai satpam. dan dalam waktu tercepat yang tidak disadari nya, Teman-teman nya datang dari pos, dengan sigap, tanpa kepanikan sedikitpun. Menjemput ambulance yang ada di pos, kemudian mengantarkan wanita itu ke rumah sakit terdekat.

Awan terdiam sejenak. Shock. Kemudian menyadari bahwa tangan dan bajunya ikut berlumuran darah.

Dan tanpa berkomentar sedikitpun, dia menyeret kakinya yang lemas mengikuti temannya berjalan ke rumah wanita itu. Temannya dengan penuh pengertian menepuk-nepuk pundak nya dan berkata dengan sok nya “bukan pertama kali terjadi, my friend. keep cool. Biar aku saja yang mengabari suaminya”

Bukan pertama kali ? Percobaan bunuh diri ?

Mereka sampai ke anak tangga paling bawah dari teras rumah. Temannya berdeham, memasang wajah bela sungkawa. Kemudian berjalan ke atas.

Awan memandang temannya dengan tidak percaya, kemudian mengalihkan pandangan dengan muak ketika mengayadari bahwa ada darah juga di lantai. Entah kenapa setelah melihat darah pada wanita itu tadi, matanya bisa melihat sejelas ini dimalam hari sekalipun. Pikirannya kosong.

Bel berdering

Awan meraih pegangan pintu dan pintu langsung terbuka ketika temannya berusaha menghalanginya. Kemudian awan memberanikan diri untuk membuka pintunya lebar-lebar.

Walau sekilas tidak tampak ada yang aneh dari rumah ini.  Awan yakin ada yang aneh, dan awan tidak pernah sepercaya ini dengan perasaannya. Awan menelan ludah. Gugup.

Dengan ragu-ragu temannya menekan Bel lagi.

Bel berdering.

Mereka berdua ragu-ragu mulai melangkah ke dalam.

“Permisi”

Dan kemudian ini adalah pemandangan yang sangat ingin dilupakannya. Sang suami ditemukan tak bernyawa, setelah sepertinya terjatuh dari kursi makannya. Dengan melihat ciri-cirinya, Awan bisa menebak bahwa dia keracunan. Dia tidak bisa mengingat bagaimana dia dan temannya dan beberapa petugas mengevakuasi sang suami. Tapi dia bisa mengingat dengan jelas bagaimana ruangan itu tampak. Membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. dan Pikiran gila itu terus menghantuinya berminggu-minggu ke depan.

*********************************************************************

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s