reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

Cerpen : Dia Sahabatku (2) April 14, 2014

Filed under: cerpen — diodinta @ 8:48 am
Tags:

‘Kebahagianmu adalah kebahagiaanku’ Aku ingat betul kata-kata yang membuat hatiku melompat tinggi ini keluar dari mulut seorang Bagus. Kami telah menjalin hubungan selama 3 tahun dan tak pernah terpikir untukku bisa mendapatkan kalimat indah ini dari mulutnya. Pacarku yang sangat tidak sensitif, pacarku yang tidak pernah mengingat perayaan kami berdua. At least dia menyayangiku, aku yakin akan hal ini ketika aku merasa tertekan akan ketidaksensitifannya.

kalimat ini adalah kekuatanku ketika aku tidak yakin dengan perasaannya. tapi kini, ketika semua ketidakyakinanku ada di puncaknya, aku bahkan tidak yakin jika Bagus masih mengingat kalau dia pernah mengatakan ini padaku. Apa yang harus aku lakukan?

Air mataku mengalir ketika mengingat apa yang aku lihat satu minggu ini. Tidak seharusnya mereka lakukan ini padaku, sendainya mereka lakukan ini padakupun, seharusnya mereka lebih rapat lagi menyembunyikannya. Damn it!! bahkan aku yakin anak kecil di seberang jalanpun tau apa yang terjadi di antara mereka kalau sikap mereka seperti itu. Apa yang harus aku lakukan?

aku melihat ponselku berkedip-kedip. new message. dari bagus.

“makan yuk”

Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya saat ini. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. apa yang harus aku lakukan?

“aku sudah makan” jawabku setelah berpikir beberapa saat. Aku takut bertemu dengannya. aku takut jika hatinya berubah. apa yang harus aku lakukan?

hapeku berkedip-kedip lagi. “temenin”

dan aku pikir aku sudah gila ketika aku menajwab : “ajak ratih yuk. keknya dia belum makan juga”

lama aku menunggu ketika akhirnya bagus menjawab ” oke, 15 menit lagi aku sampai. Di tempat biasa ya ”

aku tidak perlu mencari nomor contact ratih dalam phonebook ku, nomornya ada di speeddial, nomor 4. nomor 1 bagus, nomor 2 ayah, nomor 3 ibu. Aku harus men-dial 3 kali sampai ratih menjawab teleponku. dan aku tau kenapa.

“ya, lin?” suaranya lebih lemah dari biasanya. dan aku tau kenapa.

aku menenangkan diriku sendiri, menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. “makan yuk”

“kamu belum makan?” ujarnya terdengar khawatir. Aku tidak yakin apakah dia sungguh-sungguh mengkhawatirkanku. Aku tidak bisa mempercayai dia lagi. “aku baru aja makan. tapi aku temenin deh”

“belum. makanya aku ngajak. tadi bagus ngajak makan, jadi aku mau ajak kamu sekalian.”

Aku bersumpah aku bisa mendengar otak Lina berputar diujung sana. “Kalau Bagus udah ngajak, kenapa kalian gag makan berdua aja. Males ih jadi obat nyamuk”

“Kaya biasanya enggak aja” Ujarku, berusaha terdengar playfull. Mungkin tidak berhasil.

Hening Sesaat

“Katanya mau nemenin tadi.. ” Ujarku. Pura-pura ngambek. “Tapi ya udah deh. Biar aku makan berdua ama Bagus ajah”

*************

Aku sampai 20 menit kemudian. Bagus sudah ada disana, bermain dengan handphone nya. Dia tersenyum ketika melihat aku datang

“hai” aku duduk dan mulai melihat-lihat menu. “kamu makan apa ?” tanyaku ringan

Bagus melirik hapenya ” Nasi goreng”  berpikir sebentar, kemudian menambahkan “kamu mau minum apa ?”

“Aku gangguin minum kamu aja ” Aku nyengir. Bagus tersenyum. “Bercanda”  tambahku ketika melihat mbak-mbak pelayan di depan. Tanganku melambai-lambai dan si mbak-mbak datang dengan senyum ramahnya. Aku tersenyum pahit membayangkan apakah senyum ku bisa se natural itu sepanjang hari ini. Padahal juga si mbak belum pasti senyum dengan sepenuh hati, kan ?

“Aku pesen es jeruk ya. Makasih ”  Pesanku singkat. Merasa sebal dengan si mbak tanpa sebab yang jelas.

Baru sekarang aku merasakan apa yang dinamakan canggung dengan pacarku sendiri. Ini waktu diam paling lama yang kurasakan. Apa yang harus aku bicarakan? Gimana kuliah ? Gimana kerjaan ? Ngapain aja seharian ?

Aku melihat Bagus melirik hapenya lagi ” Ratih aku ajakin tadi, tapi dia dah makan katanya ”

Dari segala pertanyaan yang ada dipikiranku, aku malah melontarkan pertanyaan itu. Aku sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku ingin tau, ketakutan mulai meracuni tubuhku ketika aku memikirkan bahwa itu mungkin saja benar. Tubuhku bergidik hanya dengan memikirkannya.

Aku rasa aku mulai kehilangan akal sehat ketika bagus menjawab terlewat santai. “Oh ya”

Itu adalah ekspresinya ketika berusaha terlalu keras untuk mengendalikan diri. Kami sudah 5 tahun kenal dan 4 tahun jadian. Aku sudah melihat segala ekspresi yang ada di dunia ini dalam wajahnya. Bahkan aku bisa membayangkannya tanpa harus berusaha mengingat. He’s part of me now. “coba kamu yang ajak, sapa tau dia mau”

Bagus melihatku dengan matanya yang dalam. Ya, mata Bagus adalah bagian yang paling aku suka darinya. Terutama ketika dia memandang mataku. It makes me nervous and happy at the same time.  ” Kamu ga mau makan berdua aja ?” Bagus menjawab dengan jawaban yang aku inginkan. Sama seperti aku mengenalnya, aku tau dia juga mengenalku. Ekspresiku, nada suaraku, perasaanku.  Kini dia tersenyum lebar, melihat nasi goreng pesanannya datang. Terlihat lebih enak dari biasanya.

Bagus melihatku dengan mata berbinar-binar “Aku makan duluan ya” kemudian mulai menyantap makannanya dalam diam. Apakah kami biasanya makan dalam diam ? Apakah biasanya aku menemaninya makan dalam diam ? Entah kenapa aku tidak bisa mengingat banyak hal sekarang. Karena semuanya tampak berbeda.

Aku cukup banyak berdebat dengan teman-teman cowokku tentang bagaimana perempuan banyak menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan banyak hal, terlalu mengandalkan perasaan mereka. Aku bersikeras bahwa tidak semua wanita bisa disamakan seperti itu. Kita memiliki issue sendiri, yang tidak semuanya bereaksi dengan cara yang sama. Selama ini aku berpikir bahwa aku bukan wanita seperti itu. Dan sejauh yang aku dapat tangkap, mereka setuju bahwa aku tidak seperti itu. Tapi, apakah sekarang aku berpikir terlalu banyak ? apakah aku menjadi lemah seperti wanita-wanita yang dulu ikut aku cemooh ?

Bagus menelan satu sendok nasi goreng terakhirnya, tampak sangat terkesan dengan kelezatannya.

“Bagus.. ” kataku mencoba memulai pembicaraan. Otakku rasanya berputar terlalu kencang untuk berpikir, sampai aku merasa gemetar. Bagus melihatku dengan matanya yang tajam itu, jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.  I’ll be in trouble.  “Apakah kamu berpikir hubungan ini dapat terus berjalan ?” tanya ku sepelan mungkin, nyaris berbisik.

Bagus menatapku dengan ekspresi kaget dan bingung yang natural “kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?”

Aku tiba-tiba menyesal sudah menanyakannya. Aku tak tau bagaimana membawa pembicaraan ini agar Bagus dapat menjawab apa yang ingin aku ketahui, dan aku sadar seharusnya bukan dengan pertanyaan pembuka tadi. Kemudian aku mencoba tersenyum, senatural mungkin. Tapi aku dapat membayangkan diriku yang tersenyum pahit, dengan ujung bibir yang terpaksa diangkat. “kenapa kamu pikir pertanyaan ini tiba-tiba?” Aku kemudian berusaha mengatur nafas. Dia dapat merasakan air mata mulai mengalir ke matanya.

Jangan menangis.. Jangan menangis,,,,

“Apa ini akan menjadi pembicaraan serius ?” Sepertinya bagus menyadari ketidakstabilan jiwaku. Dia memegang tanganku dan menatapku tajam ” Jika memang ini pembicaraan serius, jangan disini ya”

********************************************************

Kini aku dan Bagus ada di dalam mobilnya. dia membawaku ke pantai ancol. I really hate the smell, tapi aku suka pantai. Dan ini adalah pantai paling dekat yang paling bisa kita capai saat ini. Sepanjang perjalanan aku mulai menyadari pertanyaan bodoh tadi. Ingin menghentikannya, akan tetapi otakku terlalu penuh dengan pertanyaan dan kekhawatiran sampai aku tidak yakin bagaimana untuk mengatakannya

“Aku tidak akan bilang bahwa hubungan ini tidak berjalan dengan baik.” Bagus memulai pembicaraan. “Apa kamu merasa hubungan kita berjalan dengan tidak baik ?” tanyanya benar-benar heran.

Aku tidak punya ide sama sekali bagaimana pembicaraan ini akan berlanjut. “Bukan begitu maksudku. ” Aku berusaha menyeret-nyeret kalimatku, memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya. “Lupakan saja.. Lupakan.. Oke” Pada akhirnya aku menyerah.

Hubungan kami baik-baik saja, apa yang telah aku lakukan ?

Walaupun aku tidak melihatnya, aku tau bagus sedang melihatku. Mungkin sedang berpikir apa yang sedang terjadi, dan apa yang harus dilakukannya.

“Aku tidak akan bilang bahwa aku akan mengikatmu selamanya denganku saat ini.  we both know it’s not the right time” Bagus mulai berbicara. Ini membuatku kaget karena tidak biasanya dia mau membicarakan hal-hal seperti ini. Tapi bukan ini yang aku maksudkan. Apa aku pernah memintanya untuk menikahiku secepatnya ? No.. Never.

“Aku gag inget pernah minta kamu buat nikahin aku secepatnya ” Kataku bercanda. Senyumku terangkat dengan sendirinya.

“bukan itu ?” kekhawatiran Bagus mulai terangkat sedikit. Kemudian berpikir lagi “lalu kita tadi bicarain apa ?”

Aku mengambil nafas, memberanikan diri “Aku mungkin akan menyesal menanyakan ini, tapi aku akan lebih menyesal lagi jika tidak pernah menanyakannya padamu”

Aku melihatnya mengangkat salah satu alisnya “Aku deg-degan” katanya, gag jelas serius atau bercanda

“Ada apa dengan kamu dan Ratih?” Kata-kata itu aku keluarkan secepat mungkin. Seperti mencoba melepakan hansaplas yang tertempel di luka. Kini perasaanku jauh lebih lega, sama leganya seperti melepas kontak lens setelah dipakai seharian. Jika saja Bagus tidak melihatku dengan tatapan seperti yang sekarang diberikannya, aku pasti sudah merasa bangga dengan diriku sendiri sudah memberanikan diri untuk menanyakannya.

Aku pikir lukanya sudah kering, tapi ternyata belum. Darahnya merembes kemana-mana sekarang, mengotori permukaan kulit yang lainnya.

Waktu tiba-tiba berjalan dengan sangat lama. dan rasanya langit mulai runtuh dalam kehingan yang aku ciptakan sendiri. Bagus membuka mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu, kemudian menutupnya kembali, kemudian menggertakan rahangnya dengan frustasi. Dadaku tidak pernah rasanya sesesak ini. Aku bisa merasakan air mata mulai mengalir ke pelupuk mata. Dalam hati berharap bahwa dia akan mengatakan betapa bodoh pertanyaanku, atau paling tidak seharusnya dia marah bahwa aku sudah mencurigainya.  ” I knew it !” kataku pelan, memaksa air mata untuk masuk lagi ke dalam.

” Aku mau pulang ” kataku setelah beberapa saat.  Air mata mulai mengalir tanpa aku bisa lagi menahannya. Bagus mulai melajukan mobilnya tanpa kata-kata.

“Sorry… ” katanya dalam perjalanan pulang. Hatiku tambah sakit mendengarnya. Aku hanya ingin pulang sekarang.  ” i am asshole… You deserve better”

“Aku gag mau putus” samberku cepat-cepat. Ini adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan.

“Aku juga gag mau ” Ujar Bagus pelan

***********************************

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s