reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

Cerpen : Dia Sahabatku (3) April 17, 2014

Filed under: cerpen — diodinta @ 9:06 am
Tags:

Rasanya aku mendengar sayup-sayup suara kendaraan di luar sana. Sudah jam berapa ini ? Hari apa ini ? Ada apa hari ini?

Otakku sudah dapat memikirkan banyak hal tentang hari ini. Sudah waktunya bangun dan bersiap-siap, akan tetapi mataku menolak untuk terbuka. Kalian tau kan rasanya dimana otak kita sudah memerintahkan untuk bergerak, tetapi mata rasanya tidak mau diajak bekerja sama. Rasanya menyenangkan dan menyebalkan di saat yang sama.

Sampai akhirnya aku teringat kejadian kacau tadi malam, dan mataku berhasil terbuka dengan mengingat hal itu. Tetapi keinginanku untuk melakukan hal-hal yang tadi aku pikirkan hilang seketika pada detik yang sama ketika aku mengingat kejadian tadi malam. Tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Mungkin dementor datang kesini, pikirku tiba-tiba. Kalian tau kan, penjaga penjara azkaban yang ada di serial Harry Potter. Tugasnya adalah menyerap kebahagiaan yang ada pada dirimu. Aku merasa geli karena sempat-sempatnya mengingat hal ini, akan tetapi hal ini satu-satunya hal yang bisa menjelaskan kenapa kebahagiaanku tiba-tiba lenyap.

Apa aku cuti saja hari ini ?

Tapi tanganku tidak sanggup meraih handphone yang aku yang biasanya aku taruh di atas kepala tempat tidur. Mungkin aku bolos saja hari ini, pikirku kelu. Kemudian aku menutup mata, mencoba untuk melanjutkan tidur. Rasanya malas sekali. Rasanya marah sekali.

Aku mencoba untuk masuk ke dalam kegelapan dalam pikiranku. Aku tidak dapat menjelaskan bagaimana aku melakukannya, ini adalah hal yang biasa aku lakukan ketika aku mencoba untuk tidur, dan biasanya berhasil. Lebih dalam lagi, lebih gelap lagi, otakku dengan otomatis memerintahkan pikiranku berada. Mungkin aku terdengar gila, tapi biasanya ini berhasil.  Tidak kali ini.

Aku menyerah dan membuka mataku, memaksa tangan untuk meraih handphone. 3 message. Jika salah satunya bukan dari Bagus, maka dia memang sangat keterlaluan.

Nama bagus tercetak Bold di hape membuat hatiku berdesir. Ada 2 pesan baru darinya.

“Seharusnya kita membicarakan masalah ini, tapi aku tidak tau harus bilang apa padamu. ”

“Bales kalo kamu dah bangun ya”

Aku bisa merasakan satu detak kencang di jantungku ketika membacanya. Satu detak kencang yang diiringi dengan rasa sesak yang menyakitkan. Air mataku menetes. Ah, jadi begini rasanya sakit hati.

Maksudku adalah sakit hati yang rasanya benar-benar sakit. Aku ingat dulu waktu berpacaran untuk pertama kali, yang hanya bertahan selama 6 bulan, kami putus secara baik-baik. Setidaknya aku menganggapnya begitu. Perpisahan tersebut tidak melibatkan nada tinggi, pertengkaran, air mata, ataupun perselingkuhan.

Perselingkuhan. Aku tidak menyangka Bagus bisa melakukan itu kepadaku.

Kami memang pernah mengalami masa dimana tidak ada banyak hal yang kami bicarakan. Masa dimana tidak banyak kegiatan yang kita lakukan bersama, bahkan kita tidak punya bahan untuk diperdebatkan dan dipertengkarkan. Saat itu hubungan kami sudah berjalan selama 2 tahun dan orang-orang bilang kami sedang mengalami masa jenuh. . Tapi masa itu sudah lewat, aku yakin banget.

Air mataku tidak mau berhenti menetes.

Ratih juga. Teganya dia. Dia adalah sahabatku bahkan sebelum aku masuk masa puber. Seharusnya dia tau betapa berharganya Bagus untukku. Seharusnya dia tau betapa aku tidak bisa berakhir bukan dengan dia.

“Tega…” Raungku.

Tangisanku tak berhenti sepanjang hari. Sekarang sudah jam 3 sore, dan betapa aku ingin menghentikannya pun, dengan bandelnya air mataku tetap tidak bisa berhenti meneteskan air mata. Begitu pula otakku. Aku sudah memintanya untuk berhenti mengingat-ngingat kejadian itu, tapi dia tetap tidak mau berhenti mengingat. Bahkan semakin lama ingatan itu tampak makin jelas dan detail.

“Scumbag Brain” Pikirku kelu.

Aku tidak bisa mengendalikan diriku yang sesenggukan ketika aku melihat hapeku berkedip-kedip. Nama Ratih dan foto kami bertiga tampak terang dan gelap dengan dramatis terpampang. Aku membiarkannya. Aku membenci dunia dan seiisinya, termasuk diriku sendiri. Aku tidak tau apa yang salah dan aku tidak tau harus melampiaskan ini kesiapa.

Bagus ? Dia benar-benar asshole.

Ratih, aku tidak tau sejak kapan dia jadi wanita jalang.

Tapi aku kenal mereka, sebaik aku mengenal diriku sendiri. Mungkin saja ada yang kurang pada diriku. Aku memang tidak seperiang dan semenarik Ratih, pikirku ketika aku memutuskan untuk bercermin. Melihat mataku sembab dan wajahku membengkak membuat diriku tampak lebih tidak menarik lagi.  Mungkin aku cewek yang membosankan, dan Baguslah yang membuat hidupku berwarna. Tapi bukan berarti mereka bisa melakukan ini kepadaku kan ?

Aku benar-benar membenci dunia dan seiisinya sekarang.

“Jangan saling menghubungi beberapa saat kedepan ya” tulisku setelah beberapa saat, kemudian mengirimkan pesan tersebut ke Ratih dan Bagus.

 

***************************

 

 

 

 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s