reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

Cerita Hana April 22, 2014

Filed under: cerpen — diodinta @ 8:46 pm

Hana memandang rindu pada foto yang sedang dibersihkannya. Satu persatu figura di usapnya dengan rasa sayang. Senyumnya mengembang, mengingat setiap momen indah yang tercapture dalam foto tersebut.

Rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga seperti ini tidak pernah membuatnya bosan. Membersihkan rumah memberikannya kenangan tentang bagaimana rumah ini dibelinya bersama suaminya, satu-satu nya laki-laki yang pernah dikaguminya, selain ayahnya, tentu saja. Bagaimana mereka membeli satu persatu perabotnya di dalam rumah itu. Setiap kenangan tercetak begitu nyata di ingatannya, yang bahkan dia tak perlu trigger untuk mengangkat kembali ingatan tersebut ke permukaan. Kebahagiaan  selalu menyelimutinya, mengingat betapa dia merasa beruntung memiliki apa yang memang diinginkannya; Banyu, Laki-laki yang didambakannya dan kehidupan yang berkecukupan.

Hm.. kehidupan yang berkecukupan memang sudah didapatkannya bahkan sejak dia masih dalam kandungan, karena Ayahnya adalah orang yang berkecukupan. Sebenarnya yang membuat kebahagiannya sempurna adalah karena satu-satu nya lelaki yang dikaguminya mencintainya juga. Dia tidak bisa membayangkan kebahagiaan yang lebih lagi.

Kini dia memandangi pigura dimana dia dan sang suami berpose untuk wisuda S2 mereka di Jerman bersama sang ayah. Ayah sudah yang tak lagi bersamanya sekarang. Dia tak ingin bersedih mengingat detik-detik terakhir bersama ayahnya. Kehilangan ini meninggalkan lubang yang dalam di hatinya. Sebagai seorang yang pemalu dan introvert, tidak ada yang dapat memberikannya kenyamanan seperti yang ayahnya berikan. Sesibuk apa pun si ayah, beliau tetap ada di saat-saat yang dia pikir tak penting bagi siapa pun. Beliau ada untuk mendengarkan cerita-cerita tak penting yang terjadi di dalam hidupnya, dan bereaksi seolah cerita tersebut penting untuknya.

Kehadiran si Ayah dimanapun Hana membutuhkan bahkan membuatnya tidak pernah mengeluh tentang anak-anak lain yang mengejeknya ‘tidak punya ibu’ ketika masih kecil. Ayah sudah cukup baginya, dan dia tidak pernah tega melihat tatapan sendu sang ayah ketika pikiran tentang mantan istrinya yang sudah tiada melintas di pikirannya. Pasti tidak mudah bagi seorang pria untuk membesarkan anak perempuan seorang diri. Yah, ada beberapa asisten rumah tangga yang dipekerjakan sih, tapi tetap saja hal yang dilakukan ayahnya membuatnya tidak percaya diri untuk memiliki anak. Dia takut tidak bisa membesarkan anaknya dengan baik, sebagaimana ayahnya membesarkan dia. Bagaimanapun, tanggung jawab untuk membesarkan seorang anak adalah tanggung jawab yang besar dunia dan akhirat. Dia merasa belum siap.

Pikirannya melayang ke saat Ayah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung yang dialaminya. Untung saat itu dia sedang tidak sendirian dirumah. Saat weekend, biasanya asisten rumah tangga dan driver kami pulang ke Kampungnya. Tapi untungnya saat itu si Driver ada di rumah dan dengan sigap menjalankan pertolongan pertama saat Ayah ambruk karena rasa sakit dan sesak di jantungnya. Hana dan suami bergegas ke rumah sakit saat itu. Dia masih bisa mengingat bagaimana Ayah malah mengkhawatirkan dia yang berurai air mata. Dengan canda khasnya beliau menanyakan kepada Banyu apa yang sudah dilakukannya kepada Hana sehingga dia menangis seperti itu.

Hana tersenyum kecil, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

**********************************

Samar-samar Hana mendengar suara pintu terbuka. Banyu ?

Pikirannya masih berada di alam tidurnya. Bingung. Jam berapa ini ? Kemudian dia menoleh pada jam dinding besar yang terletak di atas meja riasnya. Jam setengah 2.

Kemudian dia buru-buru mengenakan sandal rumahnya, dan menuruni tangga dengan terburu-buru. Dia melihat banyu dengan wajah datarnya meletakkan sepatunya di rak. Banyu menyadari kehadirannya, dan tersenyum padanya “Masih bangun ?”

Hana mengangguk pelan “Tumben pulang telat”

Banyu melihat jam tangannya. Kemudian berpikir sejenak. “Maaf ya. ” Kemudian mendekati Hana dan mengecup singkat bibirnya. “Kamu nungguin ?”

Hati Hana berdesir. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan hal ini. Kemudian dia berdeham kecil, “Aku ketiduran tadi.” kemudian mengikuti langkah Banyu yang melangkah menuju kamar. Kemudian teringat bahwa dia belum makan semalam ” Kamu udah makan ?” Hana melihat Banyu meletakkan tasnya di sofa dan duduk dengan tampak lebih lelah dari biasanya “mau aku buatin teh anget ?” Tambahnya kemudian melangkah ke dapur.

Hana mengaduk-aduk teh nya dengan tidak sabar. Apa ada masalah di kantor ? Ini sudah ke tiga kali dia pulang selarut ini dalam satu bulan terakhir. Hal ini tidak pernah sekalipun terjadi dalam satu setengah tahun pernikahannya. Hana mengubur dalam-dalam keingintahuannya, kemudian berjalan menuju ruang makan. “Let’s sleep after you finish this. You must be really tired”

Banyu menerima tehnya kemudian menyisipnya. “Thank You” ucapnya tulus. Hana dapat melihat suaminya sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat baginya. Tapi dia yakin yang dibutuhkan suaminya saat ini adalah istirahat. Matanya tampak sangat lelah

*****************************

 

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s