reaksi kehidupan diodinta

tempatku menulis reaksiku terhadap kehidupan

Cerita Hana (2) April 23, 2014

Filed under: cerpen — diodinta @ 4:23 am
Tags:

Bel rumahnya berbunyi ketika Hana sedang menyiapkan dapurnya untuk membuat makan malam. Hana melirik jam. Setengah 6 sore. Siapa yang bertamu jam segini ?
Hana mencuci tangan dan mengeringkannya dengan cepat, berharap tamunya ini juga tidak berlama-lama. Dia berjalan menuju pintu depan. Banyu biasa pulang jam setengah 7, dia khawatir tidak bisa menyelesaikan masakannya saat itu. Lagipula juga kami hampir tidak pernah kedatangan tamu selain dari perumahan ini, yang paling hanya minta sumbangan RT, atau sumbangan lainnya. Adapun tamu yang biasa datang adalah rekan kerja almarhum ayahnya yang memintanya untuk ‘memutuskan’ hal-hal yang sudah mereka putuskan tentang perusahaan. Itupun mereka selalu meminta janji terlebih dahulu, dan Hana selalu meminta Banyu untuk menemaninya.
Mereka sudah tidak memiliki keluarga dekat. Itulah kenapa mereka jarang menerima tamu selama ini. Hanya ada teman-teman yang mereka miliki di sekolah, dan tempat kerja (untuk banyu). Hana sendiri tidak memiliki banyak teman, disadarinya sendiri karena dia memang tidak pandai berteman.
Hana mengintip di layar monitor, dilihatnya seorang wanita berparas cantik. Wajahnya tidak asing baginya. “Ya?” ucapnya di mikrofon.
Wanita itu melirik dengan anggun ke arah suara yang datang. Tampak sedikit ragu sebelum berkata lembut “permisi. Apa benar ini rumah Banyu dan Hana ?”
“ini Hana” ujarnya pelan, ragu-ragu. Tampaknya dia mengenali wanita ini sekarang. Teman sekampusnya dulu. Mereka pernah sekelas waktu semester satu. Walaupun tidak satu jurusan, mereka diharuskan mengambil mata kuliah umum yang wajib diikuti semua mahasiswa baru dari semua jurusan.
Itu kuliah dimana dia menemukan Banyu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita ini dulu dekat dengan Banyu, dan Hana terlalu pemalu untuk mendekatkan diri.
“Hana?” Wanita itu tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Ya, seharusnya Hana sudah membukakan pintu sekarang. Ada suasana canggung yang tak bisa digambarkan beberapa detik sebelum Hana menekan tombol untuk membukakan pintu.
Hana sudah menyambut wanita itu di depan pintu dengan senyum paling ramah yang dimilikinya, dan wanita itu tersenyum juga padanya dari gerbang sambil berjalan kearahnya.
“Hi.. Lama tak bertemu.. ” hana mulai cepika cepiki tamunya itu.
“Hai… Seneng deh kamu masih inget aku” ujarnya dengan rasa senang yang tak bisa disembunyikannya.
“Ha..ha.. Aq yang harusnya seneng kamu masih inget aku” Hana kemudian menuntun tamunya ke ruang tamu. ” Duduk. Mau minum apa ?”
Wanita itu berpikir sebentar ” apa aja yang enggak ngerepotin deh” ujarnya sambil nyengir, kemudian duduk dengan santai di sofa. Hana membalas senyumnya, kemudian melenggang ke dapur.
Hana tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya terhadap kedatangan wanita ini. Dia mengambil dua botol minuman ringan di kulkas, dan mengambil beberapa bungkus makanan ringan dilemari, kemudian segera kembali ke ruang tamu. “Jadi… Ada kabar apa? Aq gag nyangka kamu datang kesini. Repot-repot” katanya sambil meletakkan nampannya ke meja tamu. Hana menatap wanita itu sambil membukakan hidangan instannya itu.
Wanita itu tersenyum kecil ” Main aja… Mumpung lagi di jakarta”
“jadi kamu kemana habis lulus?”
“aku kerja di surabaya”
Hana tidak bisa menemukan pembicaraan lain setelah itu. Kemampuannya untuk berbasa-basi memang payah dari dulu. Inilah mengapa dia tidak berbakat dalam berteman. Dia kemudian hanya mengangguk-angguk ringan sambil tersenyum, menyeruput minuman yang dihidangkannya sendiri, berusaha menghilangkan suasana canggung yang ada.
Wanita itu juga menyeruput minumannya, sambil melirik Hana. Setelah dipikir-pikir Hana bahkan sudah lupa nama wanita ini, akan tetapi dia merasa tidak enak untuk menanyakannya setelah berbicara sejauh ini. “Jadi… Gimana rasanya? Menghabiskan hidup bersama Banyu?” Hana bersumpah dapat mendengarkan nada sinis dalam pertanyaan tersebut, walaupun ketika dia cek, wanita itu meringis dengan lugunya.

Hana memiringkan kepalanya, gaya khasnya ketika dia berpikir “nothing better than being with him” kemudian meringis malu. Ini adalah jawaban defaultnya ketika ditanya tentang hal ini. Tapi ini memang jawaban terbaik yang bisa diberikannya, yang bisa menggambarkan seluruh perasaannya. “Kamu udah married?”
Wanita itu tampak annoyed ketika mendengar tanggapan hana akan pertanyaannya. Dia tampak ragu-ragu sebelum akhirnya mendengus dan berkata sinis “kamu lugu banget buat ukuran wanita yang udah married”
Hana sedikit kaget dengan tanggapan wanita ini, tapi dia tidak tau harus menjawab apa.Jadi dia diam saja, menggenggam erat handphonenya, menyiapkan nomor telepon satpam depan. Kalau-kalau rasa paranoidnya menjadi kenyataan.
“Hana… aku tau kamu tidak layak mendengarkan ini, karena kamu terlalu baik bagiku untuk menyakiti kamu” lanjutnya dramatis, seolah-olah perkataannya ini ada di dalam skenario yang sudah dipersiapkannya sejak lama ” tapi aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri bahwa aku akan membuat Banyu menerima apa yang patut dia dapatkan atas apa yang dia lakukan kepadaku dulu.”
Hana memasang wajah poker face nya. Apa yang sudah dilakukannya dulu ?
“Dulu kami dekat. Sangat dekat, kamu pasti tau, kan”
Hana mengangguk. ” Ya, aku tau.” Hana kemudian menemukan pikirannya kembali ” dan inti dari pembicaraan ini adalah…. ?”
Wanita itu tampak tersentak melihat ketenangan Hana “Suami kamu tidak sebaik kelihatannya”
Ketenangan Hana tidak tampak terganggu sedikitpun dengan perkataan wanita itu ” aku gag mau dengar ” ujarnya kalem, kemudian berdiri dan memberikan gesture yang mempersilahkan wanita itu keluar.
“Seharusnya kamu bertanya-tanya nasib baik apa yang terjadi, sampai- sampai kebetulan sekali kamu dan Banyu bisa S2 di kampus yang sama, di jurusan yang sama, di negara yang sama.” ujarnya sengit sambil berjalan keluar.
Wajah Hana tampak mengeras, tapi tidak kehilangan kekalemannya saat memegang pagar ketika wanita itu sudah keluar, yang memandanginya dengan sengit. “Ayah yang mengaturnya. Aku tau”. Ujarnya kalem, kemudian menutup pagarnya pelan.
“God… It’s you… ” wanita itu mendengus keras “Haha.. Ternyata selama ini aku membenci orang yang salah. Banyu mencampakkan aku setelah aku menunggunya setahun lebih. Setelah kami dekat selama 3 tahun. You know that ? I hate him so much that he chose to marry you, without noticing me. After all i did to him”
Hana tau wanita itu menangis hanya dengan mendengarkannya. Dia kemudian mengunci pagarnya keras, dan berjalan menuju rumahnya, membanting pintunya agar wanita tau dia sudah tidak didengarkannya lagi. “you deserve each other” itu adalah hal terakhir yang didengarkannya sebelum merasakan kakinya lemas setelah mengunci pintu rumahnya.
Hana mengintip ke layar monitornya dan melihat wanita itu mengusap air matanya kemudian melangkah pergi dengan anggun.
Hana dapat merasakan jantungnya berdetak cepat, dan dadanya sesak. Ini adalah hal paling memalukan yang dia tau tentang dirinya. Dia hampir dapat melupakan masalah ini sebelum wanita itu masuk ke sini dan membuatnya teringat kembali.
Whats wrong with her? Whats the point of her telling me that thing ? Pikir Hana kelu.
Kemudian pikirannya melayang saat dia dengan tidak sengaja menemukan fakta bahwa Banyu mendapatkan beasiswa S2 ke Jerman dari perusahaan relasi ayahnya. Fakta ini ditemukannya setelah setengah tahun pernikahannya. Dan setelah mendesak beberapa orang, dia akhirnya tau bahwa Ayahnya mendekati Banyu untuk dapat menemaninya selama di German. Hana tidak berani menanyakan sejauh apa Ayahnya mendesak Banyu setelah apa yang diberikan untuknya.
Dia sendiri bisa membayangkan kenapa ayahnya melakukan hal itu. Ya, dia pernah menangis semalaman ketika tidak tau apa yang harus dilakukan dengan perasaannya saat itu. Dia menyukai Banyu, yang bahkan saat itu tidak mengetahui keberadaan dirinya. Perasaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya itu membuat nafasnya sesak beberapa kali tanpa tau apa penyebabnya. Ayahnya sendiripun hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya ketika Hana menceritakan hal itu padanya. Mengetahui betapa percumanya meminta Hana untuk berusaha mendekatinya. Hana bahkan kesulitan berteman, bagaimana bisa dia mendekati pria yang membuat dadanya selalu berdebar hanya rngan melihat sosoknya.
Lagipula, dia tidak ingin tau. Fakta bahwa Banyu menikahinya dan mereka menjalani pernikahan seperti layaknya kebanyakan orang, sudah cukup baginya.
Apalah pentingnya hal lain? Air mata hana mengalir tanpa disadarinya.

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s